artificial ecology
ekologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. dalam istilah biologi ekologi menitikberatkan pada hubungan antara suatu organisme dengan organisme lain(lingkungan hayati) dan antara organisme lainnya dengan lingkungan fisik-kimia (lingkungan non-hayati) pada suatu ekosistem.
lingkungan non-hayati ini meliputi lingkungan buatan manusia, pada pembahasan arsitektur lingkungan ini merupakan suatu wadah yang dapat menampung aktivitas manusia dengan menciptakan space yang berupa suatu bangunan.
dalam lingkupannya ekologi buatan memberikan suatu space dengan berbagai macam ukuran dan fungsi. fungsi dari lingkungan buatan ini didasarkan atas kebutuhan manusia dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. lingkungan buatan ini harusnya memenuhi syarat yang ditentukan sesuai apa fungsi dari bangunan tersebut. misalnya dalam konteks formal, sebuah kantor, disini bagaimana seorang arsitek dapat menciptakan suatu ruang dengan batas-batas kegiatan kantor tanpa harus membatasi gerakan orang yang beraktivitas di dalamnya. selain itu juga harus menciptakan ruang gerak yang nyaman tanpa menimbulkan kesan yang monotone di dalamnya serta dapat memberikan kesan yang fresh di dalam ruangan.
suatu desain yang menitikberatkan pada hubungan ekologi serta interaksi antar pelaku pengguna ekologi buatan harus mempunyai "awarness" terhadap hubungannya dengan lingkungan. alam memberikan kita kehidupan, sehingga kita harus menjaganya dengan memberikan kontribusi sebagai pengguna ekologi. sebagai arsitek dalam mendisain suatu bangunan harus memperhatikan lingkungannya dengan memanfaatkan potensi alam yang terdapat di dalam ruang lingkup pekerjaannya.
dengan menggunakan material bangunan sebagai contoh, sebuah desain dapat dikatakan "bersahabat" dengan lingkungannya apabila dapat saling mendukung satu sama lain. misalnya menggunakan atap canopy untuk menghasilkan natural day lighting pada siang hari pada Marco Polo International Airport in Venice, Italy. atap canopy tersebut mampu mendukung ketersediaan suplay cahaya matahari ke dalam bangunan, hal ini dapat menghemat penggunaan listrik pada siang hari. panel canopy ini mendistribusikan cahaya matahari kemudian diteruskan ke bawahnya sebagai "natural lighting".
seperti pada buku "The Green Imperative: Ecology and Ethics in Design and Architecture" karya Victor Papanek mengatakan:
"both time and place give designers the confidence that the skills and talents that we bring to our work will contunue to be valuable in the futures to come. yet this must make us extremely careful about what we design and why. the changing environment of our fragile planet is a result of the things that we do and the tools that we use. now that the changes that we have brought about are so major and so threatening it is imperative that the designers and architects play their part in helping to find solutions."
jadi selama ketersediaannya material di alam, kita sebagai arsitek harus mampu memanfaatkan serta mengolahnya, bila perlu menggunakan material yang dapat didaur ulang, "recycle, reuse, and dispose responsibility" merupakan slogan yang harus diperhatikan dalam menggunakan material agar lingkungan alami dan lingkungan buatan mencapai titik seimbang.
05 March 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)

