05 March 2009

ARTIFICIAL ECOLOGY

artificial ecology

ekologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. dalam istilah biologi ekologi menitikberatkan pada hubungan antara suatu organisme dengan organisme lain(lingkungan hayati) dan antara organisme lainnya dengan lingkungan fisik-kimia (lingkungan non-hayati) pada suatu ekosistem.
lingkungan non-hayati ini meliputi lingkungan buatan manusia, pada pembahasan arsitektur lingkungan ini merupakan suatu wadah yang dapat menampung aktivitas manusia dengan menciptakan space yang berupa suatu bangunan.

dalam lingkupannya ekologi buatan memberikan suatu space dengan berbagai macam ukuran dan fungsi. fungsi dari lingkungan buatan ini didasarkan atas kebutuhan manusia dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. lingkungan buatan ini harusnya memenuhi syarat yang ditentukan sesuai apa fungsi dari bangunan tersebut. misalnya dalam konteks formal, sebuah kantor, disini bagaimana seorang arsitek dapat menciptakan suatu ruang dengan batas-batas kegiatan kantor tanpa harus membatasi gerakan orang yang beraktivitas di dalamnya. selain itu juga harus menciptakan ruang gerak yang nyaman tanpa menimbulkan kesan yang monotone di dalamnya serta dapat memberikan kesan yang fresh di dalam ruangan.

suatu desain yang menitikberatkan pada hubungan ekologi serta interaksi antar pelaku pengguna ekologi buatan harus mempunyai "awarness" terhadap hubungannya dengan lingkungan. alam memberikan kita kehidupan, sehingga kita harus menjaganya dengan memberikan kontribusi sebagai pengguna ekologi. sebagai arsitek dalam mendisain suatu bangunan harus memperhatikan lingkungannya dengan memanfaatkan potensi alam yang terdapat di dalam ruang lingkup pekerjaannya.

dengan menggunakan material bangunan sebagai contoh, sebuah desain dapat dikatakan "bersahabat" dengan lingkungannya apabila dapat saling mendukung satu sama lain. misalnya menggunakan atap canopy untuk menghasilkan natural day lighting pada siang hari pada Marco Polo International Airport in Venice, Italy. atap canopy tersebut mampu mendukung ketersediaan suplay cahaya matahari ke dalam bangunan, hal ini dapat menghemat penggunaan listrik pada siang hari. panel canopy ini mendistribusikan cahaya matahari kemudian diteruskan ke bawahnya sebagai "natural lighting".

seperti pada buku "The Green Imperative: Ecology and Ethics in Design and Architecture" karya Victor Papanek mengatakan:
"both time and place give designers the confidence that the skills and talents that we bring to our work will contunue to be valuable in the futures to come. yet this must make us extremely careful about what we design and why. the changing environment of our fragile planet is a result of the things that we do and the tools that we use. now that the changes that we have brought about are so major and so threatening it is imperative that the designers and architects play their part in helping to find solutions."

jadi selama ketersediaannya material di alam, kita sebagai arsitek harus mampu memanfaatkan serta mengolahnya, bila perlu menggunakan material yang dapat didaur ulang, "recycle, reuse, and dispose responsibility" merupakan slogan yang harus diperhatikan dalam menggunakan material agar lingkungan alami dan lingkungan buatan mencapai titik seimbang.

29 comments:

  1. Aku setuju banget soal pentingnya ekologi bangunan. aku cuma mau tanya apa ada program yang bisa ngatur hal-hal yang berhubungan dengan ekologi itu?
    Mungkin ecotect bisa..tapi ada yang lain ga?

    ReplyDelete
  2. setau aq ad...
    dari yg kubaca di buku ecoLogic Studio punya software yg bisa ngatur hub. antar ekologi gt tapi aq lupa namanya...maap
    kapan2 aq cari taw d

    ReplyDelete
  3. ya..ya...aku stuju...
    kita emang perlu banget (harus malah!!) memperhatikan ekologis bangunan dalam mendesain...syukur2 desain kita termasuk kategori arsitektur ekologis (a.k.a green architecture)...

    bisa dikatakan sebagai penghargaan kita buat alam...kita hidup di alam, "nempelin" bangunan juga di alam...masa' kita sama sekali gak berterima kasih c?

    ReplyDelete
  4. wew yang komen pake nick aneh2...bingung...apa biar diliat profilenya? heheh...

    BTT alias back to topic

    hmm..Ini intinya bahwa arsitektur harus selalu memikirkan dampak dari arsitektur itu sendiri ga sih? Bukan arsitektur egois tapi harus mampu bersanding dengan 'tetangga2'nya secara seimbang..

    ReplyDelete
  5. yep sebenernya setiap arsitek harus otomatis memikirkan lingkungan dalam proses perancangan..Jadi udah gak ada tuh arsitek pake konsep ''green desain'' karna udh jadi hal yang mesti wajib haruss..heheh apalagi dgn kemajuan teknologi skg, sangat membantu sekali..

    ReplyDelete
  6. ekologi emang penting, pengen deh besok bisa menghasilkan karya yang selalu green, biar ilmu yang kita cari sekarang dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitar, dan bukannya merusak alam sekitar..

    bagaimanapun juga karya arsitektur merupakan "pendatang" di tiap eksistingnya.. jadi emang sudah sewajarnya dia dirancang untuk menghargai alam yang udah ada sebelumnya.. bukannya mendominasi dan merusak..

    hehehehheheheh..aq malah kaya curhat colongan nih..hhehehehhe..

    :) :) :)
    MUTIARA CININTA


    hey you there,,visit my blog
    http://tripledoubleyu.blogspot.com/

    ReplyDelete
  7. yayaya...
    arsitektur ga mgkn dipisahkan dr lingkungan, lingkungan mrpkn bagian dr arsitektur itu semdiri.
    So,desain kita jg harus selaras dg lingk donkkkk

    ReplyDelete
  8. betul,,apalagi dengan dampak global warming yang kian terasa,,
    arsitek ngga blh diem aja,,harus peduli dengan bangunan yang ramah lingkungan,,

    ReplyDelete
  9. lingkungan adalah sahabat kita, yang memberikan kita kehidupan,, jadi kita harus dan wajib menjaga lingkungan kita, kalo ga dijaga ntar lingkungan (alam)nya marah dan ga mau lagi jadi sahabat kita,, kayak salah satu lirik dalam lagunya Ebiet G.A.D "atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita..." (terusin sendiri bagi yang suka ni lagu)

    kalo alam udah marah ntar jadinya bnyak bencana dibumi kita ini...

    ReplyDelete
  10. arsitektur ekologis,
    emang masih sulit dikembangin skarang ini, tapi arsitek harus berusaha sampai konsep itu tercapai. jangan sampe bumi tambah rusak:)

    ReplyDelete
  11. bener bgt apa yang dibahas sama putu...
    arsitektur tidak boleh jauh2 dari lingkungan sekitar..
    yang namanya arsitektur pasti identik dengan alam, keindahan, kesesuaian..
    arsitektur yang berhasil adalah arsitektur yang berhasil merespon keadaan alam sekitar dengan baik dan dapat memanfaatkan sekitarnya sehingga tidak menimbulkan permasalahan dalam desainnya...

    ReplyDelete
  12. Kalau boleh aku tarik kesimpulan di sini, berarti seorang arsitek ikut bertanggung jawab dalam proses pelestarian lingkungan. Lalu apakah pembangunan gedung pencakar langit dan rumah kaca yang katanya itu menjadi salah satu faktor terjadinya global warming saat ini termasuk dari kesalahan arsitek? Padahal itu kan termasuk bentuk ekspresi masing-masing arsitek..

    ReplyDelete
  13. yup.....
    Seorang perancang juga harius mempertimbagkan aspek lingkungan dalam mendisain..
    tidak hanya aspek estetika, atau keindahan saja...

    ReplyDelete
  14. wah,,,kaya baca pengantar arsitektur,,,ekologi buatan itu arsitektur kan???

    ReplyDelete
  15. iya..
    dalam mendesain karya arsitektur emg hrs memikirkan interaksinya dg lingkungan jg..

    ReplyDelete
  16. setujuu sekali..desain itu harus memperhatikan lingkungan sekitar, jadi ya perlu itu yang namanya artificial ecologies

    ReplyDelete
  17. ck..ck..arsitektur memang kompleks..
    seperti halnya benda asing yang masuk ke tubuh kita , kemudian benda asing itu mendapat perlawanan dari antibodi dalam tubuh kita, karya arsitektur juga demikian karena dalam bentuk bagaimanapun merupakan pendatang dalam ekologi.. Respon lingkungannya akan sebanding dengan sejauh mana usaha kita untuk membuat "benda asing" yang kita ciptakan mudah diterima lingkungannya..

    ReplyDelete
  18. desain ecology sangat baik dikembangkan agar lingkungan kita bisa berkembang sesuai dengan keadaan alamnya,,
    pencahayaan alami seharusnya lebih bisa dikembangkan di indonesia yang beriklim tropis dengan cahaya matahari yang melimpah..

    ReplyDelete
  19. Satu lagi requirement buat seorang arsitek jaman sekarang, bagaimana dia bisa bermain dengan desain ekologi supaya bangunannya tidak membuat bumi pertiwi lebih sakit

    ReplyDelete
  20. wah ekologi memang ga ada matinya,,,! yaa soalnya secara manusia idup di lingkunga, jadi mau ga mau juga kudu memanfaatkan dan terus memelihara apa yang udah alam kasih ke kita,, nah permasalahannya banyak ternyata arsitek2 yang belum memikirkan dampak bangunannya ke lingkungan, alhasil bangunannya bagus tapi ga ramah lingkungan,, wah kalu kayak gitu sih repot,,,

    ReplyDelete
  21. reduce, reuse, recycle..
    itu bisa jadi prinsip ekologis..

    ReplyDelete
  22. Untuk ekologi ini ,,,

    hmmm...

    pentingnya hubungan timbal balik antara lingkungan, alam, dan manusia sangatlah penting, apalagi kita sebagai arsitek yang akan merancang bangun dengan "memakan" site tentunya harus tanggap lingkungan, jadi yah memang benar kita harus pilih pilih pemakaian bahan guna efek jangka panjang alam lingkungan sekitar kita.

    ^^

    ReplyDelete
  23. waaaa.. tempalate kita sama... xixixix

    ReplyDelete
  24. unsur ekologis..

    setuju banget_

    memang hal ini merupakan salah satu unsur yang sangat penting untuk diperhatikan dalam merancang bangunan.
    seorang arsitek harus selalu merancang bangunan yang ramah lingkungan dalam arti bangunan yang memiliki hubungan timbal balik yang baik dengan lingkungan sekitar.

    ReplyDelete
  25. di dalam arsitektur diharapkan tercipta interaksi antara bangunan terhadap lingkungan, bangunan terhadap bangunan lainnya, dan bangunan terhadap manusia yang menempatinya..semuanya itu bisa mencakup masalah ekologi arsitektur

    ReplyDelete
  26. sip li, setuju! recycle, reuse, and dispose responsibility. tapi bisa ndak artificial ecologi itu dianalisis pake komputer? maksudku, tanpa pake program komputer, kan tetep bisa merencanakan bangunan yang tanggap ekologi?

    ReplyDelete
  27. Desain memang dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan alam. Jika tidak, bangunan pasti tidak akan bertahan lama ato sustainable...sejauh ini aku taunya ecotec. Di blognya dewi pujaningrum ada disebutin program lain tuh, namanya VISUALLY VERIFIED MONTAGES (VVM),. Itu program buat simulasi gimana kalo desain ditemplokin ke site. Seru sepertinya....

    ReplyDelete
  28. Pada intinya, kita sebagai arsitek tidak hanya membangun saja, akan tetapi memberi kenyamanan kepada penghuni di dalam dan penghuni di luar (maksudnya lingkungan sekitar). Percuma jika bangunan sangat indah namun secara termal tidak nyaman atau merusak lingkungan sekitar. Apalagi kita hidup di lingkungan tropis, banyak tantangan yang harus kita selesaikan. Panas dan hujan harus kita rangkul untuk mendukung bangunan yang akan kita desain.

    Stop global warming dengan wawasan artificial ecology

    ReplyDelete

 
◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger Templates Blogger Styles